1.
Anakku Ingin
Jadi Astronot
Kisah Dody
Agustina, Ayahanda M.Fajr Tsaqif
Perjuangan
Untuk Mendapatkan Sekantong Darah ( PRC 220 cc ).
Entah
ini sesuatu yang rumit atau bukan bagi sebagian orangtua yang buah hatinya
divonis menderita Thallasemia. Hari itu untuk kesekian kalinya, Fajr anak kedua
buah cintaku, merengek pusing. Pembuluh darah di bawah matanya sudah mulai
terlihat pucat. Aku segera meminta rujukan Puskesmas setempat untuk
mempertahankan hidup anakku.
Esok
harinya Pukul 08.00 WIB aku segera menuju Rumah Sakit Umum Abdoel
Moelok dan menemui admin Unit Gawat Darurat untuk
mendapatkan Berkas Baru Rawat Inap. Setelah itu
mendatangi admin ruangan rawat inap untuk mendapatkan formulir klarifikasi
menuju Ruang 5A dan 5B ( Ruang verifikasi
Jamkesmas ).
Tidak menunggu lama, aku dan anakku masuk ruangan Thalasemia.
Pendataan sekaligus ambil formulir sambil cek hemoglobin (Hb), kemudian pesan
alat kesehatan ke apotek. Cek darah di Laboratorium
dan melengkapi data pelayanan Jamkesmas. Setelah melewati serangkaian tahap itu
baru bisa mengajukan permintaan darah ke Palang Merah Indonesia (PMI).
Belum selesai sampai disitu, jika darah tersedia aku bisa langsung
membawa sekantong darah untuk anakku. Lain cerita jika stok darah dan pendonor
tetap tidak ada. Maka, aku hanya bisa berharap ada seseorang yang dikirimkan
Tuhan yang ikhlas memberikan darah segarnya untuk anakku.
Butuh waktu nyaris seharian untuk melewati serangkaian tahap-tahap
itu. Bahkan bisa lebih jika stok di PMI tidak ada. Itulah yang selalu kami
lakukan setiap bulan dan Insya Allah seumur hidup usia anak kami. Proses
panjang yang kadang membuat kami lelah, dan sedih. Bukan karena fisik kami yang
lemah, tapi lebih karena melihat buah hati kami mengerang sakit saat jarum
berkali-kali masuk ke tubuh mereka.
Bisakah membayangkan perasaan kami?. Ketika anak kami sedang lemah
dan membutuhkan darah segar. Tapi darah tidak juga kunjung datang. Apakah
pantas bagi kami untuk meratapinya?. Tentu tidak. Kami hanya berhak berharap
tentang darah itu. Darah segar sangat penting untuk mempertahankan hidup anak
kami. Jika banyak orang beranggapan kami butuh uang sebagai belaskasihan.
Sungguh, itu bukan yang utama. Kami butuh darah. Butuh sekali darah untuk
kehidupan anak kami.
Pernah
sekali waktu, sangat terharu ketika melihat Fajr tertawa sumbringah membawa
sekantong darah didalam box. Fajr berlari kecil menuju ruangan tindakan. Hari
itu, fajr sendiri yang memintaku untuk membawanya ke Rumah sakit tanpa ditemani
Umminya. Adakah yang lebih membahagiakan dari ini ?.
Setiap
orangtua penderita pastinya akan menutupi rasa haru saat itu. Bahkan selamanya.
Bersikap tegar yang akan menguatkan buah hati kami. Menjadikan dia sebagai
orang yang tidak berbeda dengan teman mereka yang normal lainnya. Sungguh ini
bukanlah sebuah keluhan, tapi hiburan bagi mereka, anak-anak kami yang hidupnya
mungkin dirasa berat.
Penyakit
Thallasemia yang diderita anak Fajr adalah penyakit kelainan darah yang
diturunkan atau diwariskan. Mengurangi jumlah haemoglobin yang dapat dibentuk
oleh tubuh, sehingga Ia
menyebabkan anemia. Thalasemia bukanlah sebuah penyakit
menular, sehingga memerlukan penanganan khusus dan ruangan yang khusus.Seorang
penderita Thalasemia ( Thaler ) akan mengalami penurunan Hb setiap bulannya,
sehingga memerlukan transfusi darah rutin setiap bulannya. Semakin dewasa dan
bertambah berat badan, maka kebutuhan darah akan semakin banyak bahkan semakin
dekat frekuensinya ( bisa dua minggu sekali ). Bisa anda bayangkan betapa
repotnya bolak balik ke Rumah sakit.Sampai sekarang belum ditemukan obat yang
bisa menyembuhkan kelainan itu. Walaupun banyak berbagai alternatif yg ditawarkan,
namun transfusi menjadi pilihan yang tepat dan terbaik sementara ini. Selama
ini, berbagai alternatif yg dijalani orang tua Thaler hanya meninggalkan anak
dalam kondisi parah bahkan sangat parah.
Thaler dan ortunya terdiri dari berbagai status, kalangan dan
kondisi ekonomi. Yg menyamakan mereka, adalah deritanya yang mengharuskan
mereka tetap datang ke rumah sakit untuk transfusi demi mempertahankan
hidupnya.
Tidak berlebihan jika Transfusi darah adalah upaya untuk mempertahankan hidupnya. karena logikanya, Hb Thaler akan terus menurun seiring waktu hingga mencapai nol. Jika nilai hb nol berarti tidak ada oksigen yang diikat darah untuk disebarkan ke seluruh tubuh. Anda tentu tahu makna oksigen untuk tubuh. Seorang Thaler diharuskan Transfusi sebelum hb nya mencapai angka 8 ( normal pria 13-16 mg/dl, wanita 12-14 mg/dl). Ini dimaksudkan supaya kondisi tubuh tidak terlalu drop, transfusi darah juga tidak terlalu banyak yg pada akhirnya akan menyebabkan limpa bekerja berat karena harus mngolah sampah darah dan tubuh menjadi pucat legam karena bertumpuknya zat besi dalam tubuh.
Lalu apakah semua orang tua sanggup menjalani penatalaksanaan
hidup anaknya dengan disiplin? Tentu jawabannya tidak semua sanggup. Disaat anak sudah tampak pucat, atau anak sudah mengeluh
pusing ( sebagai tanda hb mulai drop). Ternyata tidak semua orang tua bisa
segera ke rumah sakit. Mereka seringkali mengalami kesulitan untuk menyiapkan
biaya transportasi, akmomodasi selama di rumah sakit, belum ditambah kerepotan
harus membawa adiknya yg masih bayi, meninggalkan satu satunya mata
pencahariannya dan segudang kerepotan lainnya. Inilah yg terkadang menjadi
salah satu alasan mengapa Thaler terlambat transfusi. sehingga dampak akhirnya
Limpa membengkak, tubuh menjadi pucat legam, bahkan ada yang pada akhirnya
meninggal di Rumah sakit.
Pada intinya Setiap Thaler memiliki satu prinsip, yaitu "
MEMPERTAHANKAN HIDUP SELAMA MUNGKIN ". Kematian seorang Thaler, bagi ortu
adalah suatu kehilangan besar. bagaimana tidak, setiap hari setiap saat mereka
harus memantau aktivitas anaknya, begitupun kondisi mentalnya yg lebih rapuh.
Tapi Kematian adalah kepastian.
Kematian satu orang anaknya, sudah banyak, dua anaknya sudah banyak, bahkan semua anaknya pun banyak. Saya begitu terharu ketika saya hadir dalam prosesi pemakaman anak bungsu seorang pengurus teras POPTI Lampung, ia berkata. " Mas, akhirnya anaku semua meninggal setiap dua taun sekali". Tampak tegar di raut wajahnya.
Apakah saya, atau ortu yang lain bisa setegar dia. Wallohu'alam. Yang pasti kehidupan ini harus diperjuangkan untuk tetap berlangsung.
Kematian satu orang anaknya, sudah banyak, dua anaknya sudah banyak, bahkan semua anaknya pun banyak. Saya begitu terharu ketika saya hadir dalam prosesi pemakaman anak bungsu seorang pengurus teras POPTI Lampung, ia berkata. " Mas, akhirnya anaku semua meninggal setiap dua taun sekali". Tampak tegar di raut wajahnya.
Apakah saya, atau ortu yang lain bisa setegar dia. Wallohu'alam. Yang pasti kehidupan ini harus diperjuangkan untuk tetap berlangsung.
Kami bersama anak anak kami,memang tidak bisa terlepas dari kasih
sayang orang lain. Tp kami tidak berharap untuk dikasihani. bahkan kami sangat
sedih ketika orang lain menyinggung kami, menghina kami, mengasingkan anak anak
kami di sekolah dan pergaulan sehari hari, karena tubuh mereka yang berbeda.
Beberapa sekolah bahkan ada yg tidak memberi pengertian kepada mereka, karena
mereka seringkali izin tidak sekolah harus transfusi di rumah sakit. Tidak
sedikit dari mereka harus tinggal kelas, cuti sekolah bahkan terpaksa putus
sekolah, saking tidak enaknya.
Sahabatku semua, kami tidak memerlukan semua itu. kami juga tidak memerlukan bantuan hanya karena belas kasihan. Kami hanya butuh kasih sayang yg lebih dari semua orang. ini semua semata mata untuk mempertahankan hidup anak anak kami. Kami menjalani semua ini, bukan sehari dua hari, bahkan sampai mereka dipanggil Allah Ta'ala, atau kami yang mendahului mereka.
Sahabatku semua, kami tidak memerlukan semua itu. kami juga tidak memerlukan bantuan hanya karena belas kasihan. Kami hanya butuh kasih sayang yg lebih dari semua orang. ini semua semata mata untuk mempertahankan hidup anak anak kami. Kami menjalani semua ini, bukan sehari dua hari, bahkan sampai mereka dipanggil Allah Ta'ala, atau kami yang mendahului mereka.
Seorang Thaler rata rata memerlukan darah 3 kantong setiap
bulannya. 3 kantong sama dengan 3 orang pendonor. Bulan berikutnya 3 orang pendonor baru. Bulan ketiga 3 orang pendonor baru lagi. Bulan keempat 3 orang pendonor pertama baru bisa donor
kembali. jadi seorang Thaler memerlukan 9
orang pendonor tetap. Genap 10 orang. ( 1 orang menjadi cadangan bila yg lain
ada halangan).
Jika sahabat berkenan menyayangi anak anak kami, sahabat bisa menghubungi POPTI ( Perhimpunan Orang Tua Penderita Thalasemia Indonesia ), atau cabang YTI ( yayasan Thalasemia Indonesia ) di masing masing daerah. Alhamdulillah di Lampung sudah ada Komunitas Darah Untuk Lampung, yg digawangi oleh mas Yopie pangkey yang mengkoordinir 10 orang pendonor tetap untuk satu oarng Thaller.
Jika ada orang lain yang begitu ketergantungan dengan statusnya untuk mempertahankan gaya hidupnya, ketergantungan dengan narkoba untuk menjaga keberanbiannya, ketergantungan jabatannya untuk memelihara kemewahannya. Maka anak anak kami ketergantungan darah untuk sekadar menyambung hidup. Fajr membutuhkan itu, sebab anakku sama seperti anak-anak lainnya memiliki mimpi dan cita-cita. Mimpi yang ingin ku wujudkan bagaimanapun caranya. Mimpi menjadi Astronot. *
Jika sahabat berkenan menyayangi anak anak kami, sahabat bisa menghubungi POPTI ( Perhimpunan Orang Tua Penderita Thalasemia Indonesia ), atau cabang YTI ( yayasan Thalasemia Indonesia ) di masing masing daerah. Alhamdulillah di Lampung sudah ada Komunitas Darah Untuk Lampung, yg digawangi oleh mas Yopie pangkey yang mengkoordinir 10 orang pendonor tetap untuk satu oarng Thaller.
Jika ada orang lain yang begitu ketergantungan dengan statusnya untuk mempertahankan gaya hidupnya, ketergantungan dengan narkoba untuk menjaga keberanbiannya, ketergantungan jabatannya untuk memelihara kemewahannya. Maka anak anak kami ketergantungan darah untuk sekadar menyambung hidup. Fajr membutuhkan itu, sebab anakku sama seperti anak-anak lainnya memiliki mimpi dan cita-cita. Mimpi yang ingin ku wujudkan bagaimanapun caranya. Mimpi menjadi Astronot. *
Bulan-bulan awal berada
dikamar asing selalu membuatnya terkejut dikala pagi menyapanya. Rasa tidak
percaya bahwa ia berada di daerah baru sempat membuat nyalinya ciut. Namun ia tidak gentar. Ia yakin
langkahnya harus dimulai dari sini.
Lelaki muda berkacamata frame hitam, tanpak duduk santai di sebuah kafe di Bandarlampung. Ia sibuk memainkan handphone sambil sesekali mengunyah makanan yang sudah dipesannya. Sekilas tidak ada yang berbeda dari perawakan lelaki kelahiran 1 Mei 1988 ini. Siapa sangka, lelaki ini adalah salah satu volunter Indonesia Mengajar (IM) yang sedang berada di Tulang Bawang Barat.
Lelaki muda berkacamata frame hitam, tanpak duduk santai di sebuah kafe di Bandarlampung. Ia sibuk memainkan handphone sambil sesekali mengunyah makanan yang sudah dipesannya. Sekilas tidak ada yang berbeda dari perawakan lelaki kelahiran 1 Mei 1988 ini. Siapa sangka, lelaki ini adalah salah satu volunter Indonesia Mengajar (IM) yang sedang berada di Tulang Bawang Barat.
| Buka www.Teknokra.com |
Mesuji-Lampung:
Perjalanan menuju tiga Desa di perbatasan sungai Mesuji yaitu Sritanjung, Nipah
kuning dan Kagungan Dalam harus ditempuh kurang lebih empat jam dari jalan lintas timur perempatan
Simpang Pematang. Masuk menuju kawasan Register 45 kemudian melewati beberapa
desa Transmigrasi dan baru masuk ke wilayah perkebunan karet dan sawit baik
milik warga maupun milik Perusahaan.
Jalan
yang dilalui bukanlah jalan yang mulus. Jalan dengan keadaan tanah merah dan
rusak parah karena banyaknya lubang hasil tersangkutnya ban mobil besar maupun
kecil menambah lambat perjalanan. Belum lagi jika musim penghujan. Keadaan
jalan akan makin parah bahkan mungkin sebagian kendaraan mesti mengambil jalan
pintas menuju ketiga desa tersebut dengan masuk kekawasan kebun karet. Jalan
ini pun bukan hasil pembukaan jalan oleh Pemerintah daerah tetapi karena swadaya
masyarakat dan karena berdirinya beberapa perusahaan. Penerangan jalan pun jauh
dari harapan. Tidak ada sama sekali. Sehingga kendaraan mesti sangat
berhati-hati memasuki daerah tersebut.
Menuju
ke desa yang bisa dibilang terisolir ketika musim penghujan bukanlah perkara
mudah. Kebanyakan warga yang ingin masuk kedaerah ini meski berfikir
berkali-kali jika tidak ada kepentingan yang mendesak. Sritanjung, Nipah Kuning
dan Kagungan Dalam berada di wilayah kabupaten Mesuji hasil pemekaran Kabupaten
Tulang Bawang, Lampung. Ketiga desa ini berbatasan langsung dengan Provinsi
Sumatera Selatan yang hanya dipisahkan
oleh sungai Mesuji. Berjarak sekitar satu kilometer.
Kehidupan
masyarakat di desa sekilas terlihat hampir sama pada umumnya. Ketiga desa ini
memang mencuat namanya ketika menjadi sorotan pasca di laporkannya aksi
pelanggaran Hak Asasi Manusia di sodong. Kemudian karena kasusnya hampir mirip
dengan kasus pada desa sodong maka terkuak pula adanya kasus kekerasan yang
diduga dilakukan pihak perusahaan PT.Barat Selatan Makmur Investindo (BSMI)
kepada warga yang mengakibatkan satu orang warga Kagungan Dalam meninggal dunia
dan
tujuh warga terkena tembakan peluru api maupun peluru karet dalam
insiden yang terjadi pada tanggal 10 November lalu atau bertepatan dengan hari
Pahlawan. Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang dipimpin oleh Deny Indrayana
atas instruksi presiden telah di bentuk. Sebagai tim yang diharapkan masyarakat
bisa mengungkap kebenaran tanpa ada keberpihakan kepada golongan tertentu.
Peristiwa 10 November
2011
Waisah
(48) tidak mengira hari itu kamis, (10/11) menjadi hari yang paling mengerikan
dalam hidupnya. Keadaan desa Sritanjung yang telah menjadi naungan hidupnya
selama lebih dari umur yang dimilikinya begitu mencekam. Korban luka tembak
mulai berjatuhan akibat bentrok panas yang terjadi di wilayah PT. Barat Selatan
Makmur Investindo (BSMI), antar masyarakat desa Sritanjung, Kagungan Dalam dan
Nipah Kuning Kecamatan Mesuji, Lampung dengan puluhan polisi, marinir dan
brimob yang siaga di areal PT.BSMI.
“Seperti
perang dizaman penjajahan hari itu, warga luka tembak dengan darah mengalir
berdatangan di Desa,” ujar Waisah bercerita. Siang itu, sekitar pukul 11.00
WIB menjadi puncak kemarahan sekitar
300an warga dari tiga desa yaitu Sritanjung, Nipah Kuning dan Keagungan Dalam yang
berada dikawasan PT.BSMI.
Saksi
kunci sekaligus korban menuturkan, pagi itu firasat tak enak sudak dirasa
sebelum dirinya berangkat ke perkebunan ujar Hendrik (35) warga Sri Tanjung
yang mengaku pernah bekerja di PT BSMI sebagai satpam blok. Hendrik hendak
pergi ke perkebunan dengan maksud ikut melakukan pemanenan seperti yang telah
dilakukan warga lain. Panen dilakukan di lahan kelapa sawit yang telah di klaim
oleh masyarakat sebagai lahan mereka.
Ia
mengaku baru pertama kali itu hendak
ikut melakukan pemanenan. Alasan hendrik ikut memanen karena dirinya mengaku
kesal dengan tindakan PT.BSMI telah memutuskan hubungan kerja dengan dalih
penonaktifan sementara kepada petugas PAM Blok sejak 4 November 2011. Tak hanya
itu gajih bulan Oktober yang harusnya sudah diterimapun belum dibayarkan hingga
memasuki awal November. Beberapa kali Hendrik mencoba menayakan kepada pihak
perusahaan. Alasan tak pernah berubah, gajih sedang di gantung. Hendrik yang
telah bekerja di PT BSMI sejak 2005 ini juga mengaku dirinya dalam satu bulan
bekerja hanya di bayar 20 hari dengan gajih 32 ribu per hari. Hal ini dilakukan
pihak perusahaan sejak terjadinya krisis global yang terjadi beberapa tahun
terakhir ini. Dan perusahaan menjadikan itu sebagai alasan pengurangan gaji
harian ketika para karyawan menanyakan permasalahan itu.
Akhirnya
Hendrik memutuskan untuk melakukan pemanenan pada rabu pagi itu. Hendrik tidak
pergi sendiri tapi dirinya mengajak Gani (40) yang memang rumahnya bersebelahan
dengan rumahnya. Dengan berboncengan menggunakan sepeda motor milik Hendrik
mereka menuju lahan perkebunan. Hendrik dan Gani memutuskan melakukan pemanenan
di blok R24, blok ini dulunya merupakan Blok yang dijaga oleh Hendrik dan
merupakan primer perbatasan antara lahan Inti dengan lahan yang seharusnya
menjadi lahan plasma.
Sesampainya
di Blok R24 Hendrik dan Gani menemukan Pos R24 yang sudah dibakar. Tidak
mengetahui siapa yang melakukannya yang kemungkinan dilakukan pada malam hari.
Hendrik dan Gani tetap melakukan pemanenan tidak jauh dari pos yang terbakar
tersebut. Setelah melakukan pemanenan, Gani dan Hendrik yang hendak memindahkan hasil panenen ke
dekat jalan. Baru sekitar 10 janjang
kelapa sawit hasil panenan mereka angkut, dari kejauhan Hendrik melihat
rombongan petugas keamanan mengenakan seragam loreng. Tanpa pikir panjang
Hendrik lari menghampiri Gani dan mereka berdua lari ketakutan. Tak jalas
alasan kenapa merake takut namun keduanya mengaku takut di tangkap.
Melihat
kedua warga lari petugas patroli yang pada saat itu adalah satuan marinir
berteriak agar mereka tidak lari. Namun keduanya tetap lari dengan meniggalkan
motor dan hasil panenennya. Hendrik dan Gani saat itu lari terpisah.
Gani
yang mengaku ketakutan terus berlari tak tentu arah, sedangkan Hendrik lari tak
jauh dari lokasi awal pemanenan dan segera menghubungi adiknya yang berada di
kampung melalui Hp yang dibawa.
Berawal
dari kajadian itu warga mulai berkumpul. Puluhan warga yang memang pada saat
itu berada di lahan perkebunan mendatangi rombongan petugas marinir hendak
menayakan apa yang terjadi dan meminta kendaraan Hendrik untuk di kembalikan,
rombongan marinir pun menyerahkan motor Hendrik. Namun dalam pengkuannya Hendrik
menerima motor miliknya sudah tidak di tempat semula dan dalam keadaan kunci
stang yang patah, ban depan dan belakang sudah dalam keadaan kempes, kabel busi
yang diputus dan kondisi motor sudah lecet semua. “Kemungkinan motor saya di
tarik,” ujar Hendrik saat menceritakan kejadian tersebut.
Setelah
petugas patroli meninggalkan lokasi perkebunan, Hendrik baru sadar Gani yang
semula bersama Hendrik belum terlihat.
Warga yang sudah berkumpul saat itu
sekitar 200an orang berinisiatif untuk mencari Gani di areal perkebunan.
Setelah mencari diantara pepohonan sawit sekitar 30 menit Gani tidak juga
ditemukan. Warga mulai cemas Gani ditangkap oleh petugas patroli.
Pukul 11.00
Sekitar 200an masyarakat yang dihubungi Hendrik, ramai-ramai mendatangi Pos
Divisi 2 PT.BSMI. sambil membawa beberapa senjata tajam yang mereka gunakan
untuk memanen sawit seperti parang, alat sodos, dan lain-lain masyarakat
mendatangi Pos Divisi 2. Massa yang berjumlah ratusan orang mulai menanyakan
keberadaan tentang hilangnya Gani kepada sekitar 20an petugas kepolisian yang
berjaga di Pos Divisi 2 PT.BSMI. Saat itu terjadilah percekcokan antara polisi
dengan masyarakat. Polisi yang takut aksi massa memuncak karena semua membawa
senjata tajam akhirnya mengeluarkan tembakan dan Rano Karno tertembak dibagian
perut dan tangan.
Rizal juga menceritakan kronologis kejadianya. Setelah
sampai di Pos Divisi dua warga sempat berdialog dengan petugas Brimob yang
memang berada di Pos itu. Warga hanya menayakan apakah Gani ditangkap. Awalnya 6 orang yang perwakilan
yang menemui petugas Kepolisian untuk
menanyakan keberadaan Gani yaitu
Rizal, Dikin, Rano Karno, Fudin dan Roali. Namun, petugas
polisi dengan nada tinggi mengatakan tidak tahu keberadaan Gani. Karena pada
waktu itu petugas polisi mengaku tidak melakukan patroli dan belum ada
koordinasi dengan petugas marinir yang berpatroli. Petugas brimob dan
kepolisian saat itu berjumlah sekitar 20 orang dan memerintahkan warga untuk
bubar dan mencari Gani sendiri.
Merasa
mendapat perlakuan yang menurut warga tidak sesuai wargapun mulai panas. Hingga
akhirnya bentrok warga dengan petugas terjadi. Suasana semakin tidak
terkontrol. Dan merasa terancam pihak kepolisian mengeluarkan tembakan. Hingga
akhirnya salah seorang dari warga yaitu Rano Karno yang saat itu hendak pergi
dan belum sempat menghidupkan motornya terkena sasaran tembakan dari petugas di
perut dan bagian lengannya. Melihat salah seorang warga tertembak warga semakin
brutal dan menghancurkan seluruh mes dan isinya di Divisi II Hingga terjadi
pembakaran. Melihat warga yang semakin tidak terkendali Petugas kepolisian dan
brimob mundur dan meninggalkan pos Divisi II.
Petugas Polisi mundur dari Pos
Divisi II PT. BSMI menuju lokasi pabrik untuk
mengamankan karyawan yang bekerja di PT. BSMI dan
barang-barang milik
pabrik.
Berdasarkan keterangan Kadiv Humas Polres Tulang Bawang Bambang Suepeno, pihak
kepolisian mendapatkan laporan bahwa masa sudah melakukan
tindakan anarkis dan jumlahnya besar
sehingga Kapolres memerintahkan untuk menambah sekitar 60 orang gabungan personil
Polda, Polres dan Brimob. Satu diantaranya Kapolres Tulang Bawang.
Sekitar
pukul 15.00 Personil
tambahan tersebut sampai di pabrik. “dari kejauhan personil polisi
yang diterjunkan melihat asap sudah
mengepul di beberapa titik,” ujar Humas
Polres Tulang Bawang Bambang Supeno yang saat itu ikut ke lokasi.
Begitu
juga dengan pos polisi yang
ada dipabrik juga sudah terbakar. Saat itu massa yang jumlahnya sekitar 400an sudah berada di pabrik.
Begitu rombongan kepolisian datang dan baru memasuki Guest House
sekitar 7 motor menghampiri mobil patroli petugas dan saat itu Kapolres ada di mobil paling depan. Salah satu warga yang
berada di barisan paling depan adalah Zaelani (50) membonceng anaknya Sarni (25). Sekitar 4 meter
mendekati mobil Sarni anak Zaelani melompat dari motor dan berlari menghindar.
Sedangkan Zaelani yang merupakan warga desa Keagungan Dalam dengan posisi mengendarai motor satu
tangannya mengacungkan parang panjang. Gani terus mendekati mobil kepolisian
dan karena dikhawatirkan dapat membahayakan personil termasuk
Kapolres terdengarlah suara Tembakan. Dan Zaelani pun tersungkur di tempat.
Melihat pamannya terseungkur, Muslim
(17) hendak menolong namun tembakan juga bersarang di
kakinya. Warga yang mendengar tembakan yang bertubi-tubi menjadi kalangkabut
dan berusaha menyelamatkan diri. Namun beberapa orang terkena sasaran tembak
seperti Robin (17) yang tertembak dibagian kaki kiri dan Harun (17) tertembak
dibagian tumit kiri.Korban pun berjatuhan warga yang semula hanya ingin
menanyakan keberadaan salah satu warganya di sambut brondongan tembakan.
Zaelanipun,
gagal diselamatkan warga, karena pihak kepolisian membawa Zaelani didalam mobil
polisi. Rizal saksi mata ditempat
kejadian mengatakan petugas kepolisi saat
di pabrik mengeluarkan tembakan secara langsung tanpa tembakan peringatan, “Kami belum sempat berdialog dengan kepolisian saat di pabrik, tapi polisi sudah
langsung memberondongi kami dengan tembakan” ujar rizal yang tinggal di desa
Sritanjung.
Kaporles
Tulang Bawang, AKBP Shobarmen yang berada ditempat ikut menenangkan massa.
Massa terus memaksa kepolisian untuk melepaskan Zaelani yang diduga ditangkap
pihak kepolisian. Setelah kejadian
itu,
pihak
kepolisian pun mundur dan benar-benar mengosongkan
pabrik sedang warga melakukan pembakaran
terhadap pabrik PT.BSMI sebagai puncak kekesalan.
Awal mula Konflik
PT.BSMI
Kehidupan
masyarakat di sepanjang Sungai Mesuji, atau sering juga di sebut sebagai Mesuji
Perairan mulanya benar-benar mengandalkan alam. Semua warganya berpenghasilan
dari lahan yang oleh mereka selama ini disebut sebagai tanah ulayat atau tanah adat yang secara turun
temurun mereka tinggali dan mereka garap sebagai sumber kehidupan. Tanah ini
memang diakui oleh negara.
Masing-masing
warga bebas menggarap lahan sesuai dengan kemampuan mereka. Mereka menanaminya
dengan tanaman buah, kayu dan ada juga yang dimanfaatkan sebagai lahan padi Sonoran yaitu padi sebar yang akan
tumbuh ketika musim penghujan. Hasil dari padi sonoran ini bisa dipakai untuk
memenuhi kebutuhan beras selama 3 tahun dalam sekali panen. Tak pernah terjadi
perebutan lahan antar warga. Wargapun merasakan kesejahteraan dari hasil
garapan lahan mereka. Selain itu warga juga masih dapat menikmati melimpahnya
ikan di sepanjang aliran sungai Mesuji yang menjadi batas antara provinsi
Lampung dan Sumatera Selatan.
Hingga
akhirnya pada tahun 1994 beberapa orang dari pemerintah daerah yang saat itu
masih dalam Kabupaten Tulang Bawang bersama petugas Badan Pertanahan Nasional (BPN)
Lampung Utara datang. Mereka memberikan sosialisasi akan adanya sebuah
perusahaan perkebunan yang akan beroprasi di lahan mereka. Perusahaan itu
adalah PT. Barat Selatan Makmur Investindo (BSMI). Status PT.BSMI saat itu
sudah mendapatkan Izin Usaha, jadi warga hanya dilibatkan dalam sosialisasi
penentuan luas wilayah dan penentuan harga ganti rugi lahan garapan warga yang
termasuk dalam lahan perusahaan. Walaupun akhirnya penetapan harga tersebut dilakukan
sepihak.
Wilayah
yang awalnya di tentukan dalam izin PT. BSMI adalah seluas 10.000 ha sebagai
lahan inti, dan lahan seluas 7000 ha untuk plasma. Lahan plasma merupakan
pengelolaan lahan perkebunan yang dilakukan secara kemitraan antara Perusahaan
dengan warga. Setelah berjalan warga dipekerjakan sebagai buruh harian lepas
dengan upah saat itu 12 ribu. Dengan masa kerja yang semakin lama semakin tak
tentu harinya.
PT.BSMI
pada tahun 1995 menambah lokasinya namun atas nama PT.Lampung Inter Pertiwi
(LIP) seluas 6000 hektar. LIP masih satu pimpinan dengan BSMI. PT. BSMI juga Menentukan
harga yang sepihak, menetapkan tanah rekognisi sebesar 50% sehingga tanah yang
dibayar dr BSMI hanya 5000,LIP 3.314 kelebihan lahan waktu pengukuiran oleh BPN
seluas 2.455 total tanah yang dikuasai tanpa izin 17.769 HaLahan warga
diberikan ganti rugi Rp150 ribu/ha itupun warga harus membersihkan lahannya. Dan
dengan sistem Rekognisi atau
penggantian dilakukan hanya pada 50% dari luas lahan. Dan sisanya adalah lahan
negara yang akan diganti rugi langsung kapada negara. Dari keputusan ini warga
sudah malakukan keberatan. Warga meminta penggantian tidak secara rekognisi namun secara keseluruhan dan
warga juga mengajukan harga ganti rugi sebesar 300 ribu untuk lahan Perairan
dan 500ribu untuk lahan daratan.namun tuntutan wargapun tak dihiraukan.
“proses
pembebasan dilakukan secara paksa” Ujar Ajar Etikana. “Saat itu masih rezim
orde baru, jadi siapa yang malawan akan ditangkap”.
Setelah
bertahun-tahun menanti janji perusahaan untuk menyerahkan plasma pun tak juga
terealisasi hingga saat ini. Hingga akhirnya tanah yang dianggap oleh warga milik
plasma mereka. Masyarakatpun mulai mulai menggarap sejak oktober 2011. Memanen
buah nya untuk kehidupan mereka. Itupun dengan diam-diam. Jika ada yang ketahuan
mencuri, polisi yang berjaga tak segan untuk menangkap warga.
Cerita dahulu, tidak
sekarang
Sebelum
PT. BSMI masuk, masyarakat ketiga desa Sritanjung, Kagungan dalam dan nipah
kuning sadahulu hidup dengan sangat makmur. Tanah ulayat yang mereka klaim
milik mereka yang tumbuh lebar dengan tanaman ilalang masyarakat babat habis.
Masyarakat mulai memanen Padi Sonor dan memanfaatkan daun purun yang dianyam
menjadi tikar sebagai mata pencaharian. Begitupula ikan yang benar-benar
melimpah dari aliran sungai Mesuji.
Masyarakat
benar-benar bergelut dengan kekayaan alam yang memang tersedia di daerah
tersebut. Pohon purun yang memang tumbuh subur ditanah rawa benar-benar
dimanfaatkan oleh wanita dari ketiga desa tersebut. Setiap hari sambil menunggu
suami pulang dari ladang dan mencari ikan, para ibu-ibu dan remaja sibuk
menganyam daun purun untuk dijadikan tikar.
Namun,
cerita menganyam tikar itu akan sangat sulit dijumpai lagi saat ini. Bermula
sejak PT. BSMI masuk. Semua tanaman purun dibabat habis, berganti dengan
tanaman sawit milik PT.BSMI. Masyarakat bukan hanya kehilangan ladang padi
sonornya namun kehilangan mata pencaharian lain seperti ikan yang sulit dicari
karena limbah pabrik dan pohon purun yang tak dapat lagi ditemui.
Rusmona
(45) merupakan satu-satunya warga Desa Sritanjung yang hingga sekarang masih
terus membudayakan menganyam tikar daun purun. Saat ini Rusmona meski mencari
pohon purun dari desa tetangga yaitu desa Sodong untuk terus menganyam tikar.
Rusmona
menuturkan, 17 tahun lalu para wanita di desa ini pintar menganyam tikar. Satu buah tikar
selebar 1 x 1,5 dijual seharga Rp 6000,00. Tikar-tikar yang sudah jadi dijual
ke Tulangbawang. “setiap hari ada saja pedagang yang memborong tikar buatan masyarakat
desa sini,”ungkapnya.
“Kami menderita selama
17 tahun”
Hajar Etikana (45) kordinator masyarakat desa
Sritanjung Sejak PT. BSMI masuk, lambat laun kehidupan masyarakat berubah 360
derajat. Mata pencaharian masyarakat langsung terputus. Kehidupan masyarakat
mulai bergantung dengan PT.BSMI sebagai buruh Harian Lepas (HL) yaitu dengan
membersihkan ilalang disekitar tumbuhan sawit dan nebas (buka lahan-red).
Seorang HL yang bekerja sejak pukul 06.30-15.00 Wib hanya dibayar Rp 32.000,00
perhari. Itupun belum dipotong ongkos naik perahu kotok pulang-pergi sebesar Rp
4000-6000 perhari. Alhasil, nominal Rp 28.000,00 hanya diterima ditangan.
Waisah menuturkan, PT.BSMI hanya manis dimulut
diawal saja. Janjinya untuk memperkerjakan masyarakat pribumi hanya cerita
manis. PT.BSMI memang memperkerjakan masyarakat pribumi namun hanya sebagai HL,
bukan karyawan tetap. Karyawan tetap justru banyak diambil dari warga
transmigran. Untuk masalah penggajian buruh HL pun yang naik pertahun Rp
1200,00 sejak 1994. Lebih parah lagi, gaji tidak dibayarkan full perbulan
tetapi selalu digantung selama
duahari oleh PT. BSMI. “awalnya memang bekerja tigapuluh hari, namun makin lama
jumlah hari makin dikurang oleh PT.BSMI. setahun yang lalu kami hanya
dipekerjakan tujuh hari dalam sebulan, itupun dengan upah yang digantung
duahari. Jadi kami hanya menerima upah pembayaran lima hari,” ujar Waisah
dengan bibir gemetar.
Penderitaan
warga kian bertambah. Takkala sejak
Januari 2011, PT. BSMI Benar-benar memberhentikan seluruh aktifitas
buruh HL dari warga asli pribumi. Masyarakat mulai resah. Sulitnya mencari
sesuap nasi didesa yang jauh dari kota ini karena tak mampu lagi bergantung
dengan hasil ikan yang makin sulit dan menganyam tikar pohon purun. Sebagian
masyarakat muali merantau ke desa tetangga. Mencoba mengadu nasib kepabrik
didesa seberang.
Sedang
yang lain terus memcoba mengumpulkan sebutir demi sebutir biji sawit sisa
pemanenan PT.BSMI. banyak pula yang nekad menyodos buah sawit dipohon. “Tuntutan
perut, memaksa kami mengambil buah sawit dilahan plasma yang tidak diperbolehkan
PT. BSMI masuki. Jika ada yang ketahuan, makan kami sering diancam brimob dan
marinir yang memang melakukan penjagaan ketat di seputaran lahan.” Cerita
Waisah.

Leave a Comment